Jumat, 17 Desember 2010

curahan hati di kala idhul adha

Lebaran idhul adha kali ini akan terasa berbeda bagi mahasiswa D3 Keperawatan tingkat akhir. Ketika hari lebaran yang biasanya kumpul dengan keluarga besar, kini harus kumpul dengan para pasien dan perawat yang baru dikenal beberapa hari. Hari Idul Adha kali ini bertepatan dengan jadwal paraktik mereka di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang. Bahkan di hari dimana semua umat muslim berkurban hewan ternak, mereka mengorbankan waktu untuk tetap memberikan asuhan keperawatan kepada pasien mereka alias tidak libur. Begitu selesai menjalankan Sholat Ied di depan gerbang rumah sakit, mahasiswa segera kembali ke tugas di ruangan masing-masing.
Nampaknya dalam idhul Adha kali ini, harus lebih disadari lagi tentang jiwa bangsa Indonesia. Jiwa yang kini di uji dengan begitu banyak problematika kehidupan. Mengamuknya Mentawai hingga tumbangnya Merapi merupakan beberapa contoh hal yang perlu direnungi keberadaanya. Apa yang salah dengan jiwa kita? Apa yang masih terlewatkan dalam hidup kita? Apakah ini azab? Peringatan? Musibah? Atau sebuah anugerah.

Saat kini di rumah sakit jiwa, satu demi satu korban keganasan Merapi silih berganti berdatangan. Muntahan lava merapi telah membawa terbang jiwa mereka. Kini saat mereka kosong, hampa tanpa jiwa. Mereka membutuhkan bantuan kita. Goncangan dasyat merapi telah menggoyahkan jiwa mereka. Apa yang ada di rumah sakit mungkin hanya sebagian kecil dari buntut bencana, bahkan sangat sangat sangat kecil.
Kadang ada rasa ingin mengulurkan tangan. Tapi. Yah... baru ini yang bisa ku lakukan. Sepanjang jalan yang kulalui saat ke jogja membuatku miris. Dua orang lansia dengan pandangan kosong menatap jalan raya. Tatapan kosong seolah menusuk tepat ke pusat jantung hatiku. Mengirim signyalnya ke saraf-saraf di otakku. Merangsang kelenjar lakrimasi beraksi. Dan tumpahlah hujan kecil ini. Rasa sakit segera menjalar ke seluruh tubuhku. Aku bergetar hebat. Ya allah kuatkan mereka. Beri kami, bangsa Indonesia untuk melewati segala cobaanmu. Beri kami petunjuk agar tetap dijalanmu. Agar tak tersesat dalam jalan gelap penuh liku, yang mengirim kami ke jurang kenistaan.

Dalam menyikapi problem ini, mungkin akan ku anggap menjadi anugerah. Anugrah terindah yang diberikan. Anugerah yang akan dijadikan sebagai petunjuk bagi manusia. Agar sadar akan segala kealpaan selama ini. Agar sadar betapa kuasa Allah tiada tandingannya. Anugerah yang akan selalu menjadi peringatan agar lebih baik dalam menjalani kehidupanya. Menjadi manusia yang pantas menjadi khalifah di dunia. (21 november 2010)

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Template by:

Free Blog Templates