Minggu, 19 Desember 2010

PERAN KEHIDUPAN

Aku sungguh nggak ngerti kenapa bisa ya film Indonesia begitu berlebihan. Dalam film selalu ada peran antogonis yang jahat berlebihan dan ada protagonis yang selalu menderita. Tapi dalam kamus kehidupan ini tidak ada yang seperti itu. Tidak ada orang yang sebaik protagonis di film-film. Setiap manusia di anugerahi nafsu dan hati. Tidak ada makhluknya yang tidak punya rasa marah. Rasa benci. Dan rasa dendam. Tidak ada makhuknya yang tidak punya rasa welas asih, rasa cinta, rasa sayang. Kecuali mereka yang punya gangguan jiwa. Ya itulah manusia. Selalu tedidiri dari dua bagian dalam hidupnya. Bagian gelap dan sucinya.

Aku menjalani hidup ini, terus-terusan berubah peran. Ada kalanya aku jadi pemeran utama, dan ada kalanya aku menjadi antagonis yang bagi seseorang yang begitu jahat. Tapi ya itulah kehidupan. Setiap orang menjadi pemeran utama dalam kehidupannya masing-masing. Tidak ada yang bisa menjadi pemeran utama dalam kehidupan semua orang, sekalipun dia adalah penguasa dunia. Karena dalam penciptaanya pun, Dia telah menggariskan manusia sebagai khalifah. Pemimpin. Pemimpin bagi dirinya sendiri.

Tetapi baru kali ini aku merasa ada orang yang memposisikan dirinya dalam peran antagonis selamanya. Kadang ada rasa benci yang begitu menggunung. Mengingat kelalimannya. Mengingat kejahatannya. Dan mengingat keculasannya, kelicikannya dan kepicikannya . aku sampai benar-benar tidak mengerti, apakah dia tidak punya hati? Tapi tamaaknya dia juga pernah menangis. Ah benar-benar orang jahat tiada tara. Tetapi ada kalannya rasa kasian muncul padanya. Takut jiwanya terganggu. Takut kopingnya menurun menjadi Perilaku Kekerasan (salah satu jenis masalah dalam ilmu kejiwaan di mana seseorang menjadi mudah marah-marah, suka mengamuk, sinis kepada seseorang dan sering berbicara kasar juga mudah curiga pada semua orang). Sungguh simpatiku pun datang. Tapi bagaimana cara membantunya keluar dari hal itu? Dia juga tidak sadar, atau mungkin menikmati kejahatannya? Benar-benar orang yang luar biasa antagonis. Kasian.

Dalam setiap detik kebersamaan, kenapa selalu ada kelaliman yang dia umbarkan. Ada kepicikan yang selalu dia torehkan di hati sesama. Akupun mulai ennga mendekat. Takut menjadi korban seanjutnya. T akut emosiku tersulut. Dan aku pun akan melakukan hal yang sama. Terus bisa-bisa aku jadi sejahat dia. Tidak mau.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Template by:

Free Blog Templates