Senin, 27 Agustus 2012

Siapakah yang Sekarat?, eh... Selamat!?

Aku sedang mengotak atik foto sampul facebookku ketika tiba-tiba Praha-Milanisti-si-aktivis-seumur-hidup itu memberi pesan singkat. “Aku kirim artikel ke e-mailmu” katanya. Aku tersenyum saja. Aku browsing internet memang berniat hendak mengambil naskah kirimannya setelah membaca smsnya darinya pagi tadi.
“Baru mau aku buka Mas.” Sahutku sambil asik dengan foto-foto narcisku. Setelah memilih-milih foto, aku pun menguploadnya dan meninggalkan halaman facebook. Aku segera membuka halaman gmailku yang sedari tadi loading sangat lama. Wifi kampus lola bung!
“Klunting!” tiba-tiba terdengar suara pesan masuk lagi di facebookku. Karena gmail masih loading juga, aku kembali beralih ke facebook. Rupanya Mas Praha lagi. Ia mengirimkan sepotong anekdot. Bunyinya begini:
Seorang Guru matematika bertanya kepada murid-muridnya:
Guru : “Seandainya pesawat Boeing 747 Lion Air dipiloti oleh penyabu, dan mengangkut 560 orang anggota DPR RI, meledak di ketinggian 1000 feet dan jatuh di pegunungan berbatu tajam dengan kemiringan 45 derajat, berapa kemungkinan yang selamat?”
Murid-murid menjawab serempak dan tegas : “Yang selamat 250 Juta rakyat Indonesia, Bu!”
ahihihiihihihihiii”
Aku tersenyum membacanya. Sebuah sindiran halus yang langsung mengena melihat kondisi bangsa saat ini. Ironis memang, tetapi ini adalah sebuah fakta! Sebuah realita yang berkeliaran di sekeliling hidup kita.
Para “wakil rakyat” yang ada di gedung megah sana layaknya lintah penghisap darah rakyat. Layaknya vampir yang meminum darah korbannya hingga pucat pasi. Tidak berdarah lagi.
Di setiap gedung-gedung pemerintahan, cobalah tengok parkiran! Tidak beda jauh dari showroom mobil mewah. Sangat ironis jika dibandingkan dengan kemiskinan dan kemelaratan yang diderita rakyat Indonesia.
Ah tragis! Lebih tragis lagi ketika aku menyadari bahwa aku tidak bisa melakukan apa pun untuk merubah keadaan. Betapa memalukannya. Aku jadi teringat diskusi dengan teman-teman IMM di Linggo ketika DAD Sabtu kemarin.
Masalah-masalah sosial begitu kental di sekitar kita. Bahkan beberapa calon-aktivis-muda-luar-biasa (Gyaa.... berasa udah tua jadinya), sangat antusias ketika membahas permasalahan lokal. Examplenya nih di Pekalongan, yang lagi booming banget, pendataan dan penertiban tenaga honorer juga perumahan tenaga honorer ilegal. Bacalah: Pemecatan!!!
Ratusan tenaga honorer yang sudah mengabdi tahunan, diberhentikan begitu saja seolah tidak berarti. Aku jadi teringat nasib tenaga honorer yang mengabdi di SDku. Seorang kawan yang dipertemukan secara tidak sengaja. Apakah dia juga diberhentikan? Setelah hampir tiga tahun ini menempuh perjalanan Doro-Petungkriyono yang kalau melihat kondisi jalannya, lebih mudah untuk mengatakan itu adalah sungai kekeringan ketimbang jalan. Naik motor sampai berasa naik kuda karena buruknya kondisi jalan. Harus diberhentikan?????
Mengerikan!!!!!
Pagi tadi, aku membaca koran, untunglah ada beberapa pembelaan dari kalangan pendidikan. Banyak orang yang berpendapat bahwa hal ini kurang benar, terkait masih kurangnya tenaga pendidik di Jawa Tengah.
Tetapi kok tidak ada pembelaan dari dinas kesehatan? Bukankah pemecatan juga terjadi di rumah sakit-rumah sakit. Imbasnya terkena pada perawat dan bidan yang sudah mengabdi tahunan? Bekerja shift siang-malam-pagi yang sangat melelahkan harus berhenti begitu saja? Lagi-lagi aku hanya bisa mengehela nafas. Akankah kita diam saja?
Dikampusku yang notabenenya adalah program studi kesehatan juga tidak ada gerakan kok. Lagi pada sibuk praktek dan belajar! Hehehe...
What should i do? Aku kembali merenung, sekarang para “Bapak pejabat yang terhormat” sedang sibuk menjauhi KPK. Mencari payung perlindungan agar “aman.”. Lalu masihkah mereka ingat dengan amanah yang mereka emban sebenarnya?
Jalanan rusak, kemiskinan, putus sekolah, kemelaratan, pemecatan, pengangguran, PHK, dan bla bla bala.... banyak masalah ternyata. Lagi-lagi aku hanya mengehela nafas panjang. (Lagi?????)

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Template by:

Free Blog Templates