Dari mimpi, hidup dimulai... Dan di tempat ini, kau bebas berkreasi... Rangkailah, pilihlah dan jemput mimpi-mimpi ini... Aku, mimpiku, bersamamu^^
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
C
![]() |
| Add caption |
Pengertian
Herniotomi adalah operasi pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong hernia dibuka dan isi hernia dibebaskkan kalau ada perlengketan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit ikat setingggi mungkin lalu dipotong.
Herniopastik adalah tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dengan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis
Indikasi
Herniotomi dan hernioplastik dilakukan pada pasien yang mengalami hernia dimana tidak dapat kembali dengan terapi konservatif.
Proses tindakan Herniotomi
Membuat sayatan miring dua jari diatas sias, kemudian Kanalis inguinalis dibuka, memisahkan funikulus, dan kantong hernia dilepaskan dari dalam tali sperma, dilakukan duplikasi (pembuatan kantong hernia),kemudian isi hernia dibebaskan jika ada
perlengketan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.Henioplastik
Memperkecil angulus internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fascia transversa dan memjahitkan pertemuan m.transversus internus abdominis dan m.oblikuus internus abdominis keligamentum inguinalis. Ini merupakan metode Basini. Sedangkan untuk metode Mc Vay yaitu menjahitkan fascia transversa, m.tranversus abdominis, m.oblikuus internus abdominis ke ligamentum Cooper.
Persiapan Alat
Alat tidak steril
Meja operasi
Mesin cauter
Lampu
Tempat sampah medis
Tempat sampah baju, duk operasi
Mesin anestesi
Tiang infuse
Bahan Medis Habis Pakai
Kassa steril 100
Betadin 1
Alcohol 1
Polisorb no. 1 1
Plain no. 2/0 1
Surgipro no 2/0 1
Handscoen 4
Set infuse 1
Set yang dipakai (instrument yang digunakan)
Instrumen steril (set dasar )
Mess 24 1
Scapel mess 4 1
Pinset anatomis 2
Pinset cirurgis 2
Gunting jaringan 2
Needle Holder 3
Gunting benang 1
Hemostatic Forcep Kelly 6
Hemostatic Forcep Kocher 6
Hemostatic Forcep Rochester-Pean 9
Sponge Holding Forcep 2
Pengait Langenbeck 2
Introduksi
a. Definisi
Suatu tindakan pembedahan dengan cara memotong kantong hernia, menutup defek, dan menjahit pintu hernia
b. Ruang lingkup
Benjolan di daerah inguinal dan dinding depan abdomen yang masih bisa dimasukan kedalam cavum abdomen.
Kadang benjolan tidak bisa dimasukkan ke cavum abdomen disertai tanda-tanda obstruksi seperti muntah, tidak bisa BAB, serta nyeri.
c. Indikasi operasi
* Hernia reponibel
* Hernia irreponibel
* Hernia inkaserata
* Hernia strangulata
d. Diagnosa banding
* Hidrokel testis
* Tumor testis
* Orchitis
* Torsio testis
f. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk faktor penentu terjadinya hernia:
* Ronsen thorax → COPD
* USG → BPH
Tehnik operasi Herniotomi – Herniorafi Lichtenstein
Hernia inguinalis lateralis dan medialis:
1. Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum, spinal anestesi, atau anestesi lokal
2. Insisi oblique 2 cm medial sias sampai tuberkulum pubikum
3. Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus Oblikus Eksternus)
4. Aponeurosis MOE dibuka secara tajam
5. Funikulus spermatikus dibebaskan dari jaringan sekitarnya → dikait pita & kantong hernia diidentifikasi
6. Isi hernia dimasukan ke dalam cavum abdomen, kantong hernia secara tajam dan tumpul sampai anulus internus
7. Kantong hernia diligasi setinggi lemak preperitonium, dilanjutkan dengan herniotomi
8. Perdarahan dirawat, dilanjutkan dengan hernioplasty dengan mesh
9. Luka operasi ditutup lapis demi lapis.
g. Komplikasi operasi
* perdarahan
* infeksi luka operasi
* cedera usus
* cedera kantong kemih
* cedera vas deferen
* cedera testis, orchitis, atropi testis
* cedera saraf intra ingunal, ilia hipogastrik atau genota femoral.
h. Mortalitas
Tergantung keadaan hernia: reponibilis atau strangulata, kondisi dan penyakit penyerta
i. Perawatan Pasca Operasi
Paska bedah penderita dirawat dan diobservasi kemungkinan komplikasi berupa perdarahan dan hematoma pada daerah operasi
j. Follow-Up
Pasien disarankan tidak berolah raga berat atau mengangkat benda berat selama 6-8 minggu untuk mencegah kekambuhan.
Rabu hari ke 3 PKL. Kesabaranku di pagi ini diuji dengan kehadiran 2 orang “penyusup” brengsek! Fine, mungkin agak kasar kata-kataku barusan. Tapi benar-benar bikin perasaan nggak enak! Neghk banget tau nggak. Bilanglah saya galak. Bilanglah saya sok ngatur. Membandingkan saya dengan zukay. Katanya dia baik. Bebas. Terserah. Penghianat! Kenapa anggota saya ada yang seperti itu? Kenapa tidak bilang ke saya kalau nggak suka. Kenapa harus bilang sama orang lain? Pengecut. Berani Cuma dibelakang. Gak berani bilang langsung sama saya. Pamer para penyusup semakin menjadi-jadi. Memekakan telinga dan membuatku MUAK.
Ya Allah saya hanyalah gadis dengan emosi cukup tinggi, jadi saya harap jaga perasaan saya. Janganlah sampai amarah ini keluar. Saya baru sadar, kini saya sangat merindukan keluarga saya anak IMM. Mereka jauh lebih mengerti. Jauh lebih punya empati dan yang pasti nggak EGOIS! Saya jujur sangat marah. Tapi saya harap dengan membuat catatan ini amarah saya tersalurkan. Ya Allah beri saya kekuatan untuk menjadi ketua yang baik dan bijak dalam menyikapi sesuatau. Biarlah anjing menggonggong. Khafilah berlalu. Saya sudah berusaha dengan begitu sabar terhadap mereka. Tapi dikasih hati minta jantung. Bisa gilla!!! Biarlah. Aku yakin hanya si bodoh nan sombong itu yang seperti itu. Saya tetaplah elisa yang seperti ini. Dan selalu mencoba menjadi yang lebih baik!!! Amien………
TINJAUAN TEORI
A. PENGERTIAN
Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak serta berkembangnya komplikasi mikrovaskuler, makrovaskuler dan neurologist. ( Long, 1996 : 4 )
Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. ( Smeltzer,2002 : 1220 )
Diabetes militus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemi. Glukosa secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk dihati dari makanan yang dikonsumsi. (Brunner dan Suddarth, 2002).
B. PENYEBAB
DM dapat disebabkan oleh banyak faktor. Noer ( 1996 ) menyebutkan bahwa ada 4 penyebab terjadinya DM, yaitu faktor keturunan, fungsi sel pankreas, dan sekresi insulin yang berkurang, kegemukan atau obesitas, perubahan karena usia lanjut berhubungan dengan resistensi insulin.
Faktor keturunan dapat menjadi penyebab yang mengambil peranan paling penting dalam terjadinya DM karena pola familial yang kuat ( keturunan ) mengakibatkan terjadinya kerusakan sel sel beta pankreas yang memproduksi insulin. Sehingga terjadi kelainan dalam sekresi insulin maupun kerja insulin ( Long, 1996 ).
Fungsi sel pankreas dan sekresi insulin yang berkurang dapat terjadi karena insulin diperlukan untuk transport glukosa, asam amino, kalium dan fosfat yang melintasi membran sel untuk metabolisme intraseluler. Jika terjadi kekurangan insulin akibat kerusakan fungsi sel pankreas akan menyebabkan gangguan dalam metabolisme karbohidrat, asam amino, kalium dan fosfat ( Long, 1996 ).
Kegemukan atau obesitas dapat sebagai pencetus terjadinya DM karena insiden DM menurun pada populasi dengan suplai yang rendah dan meningkat pada mereka yang mengalami perubahan makanaan secara berlebihan. Obesitas merupakan faktor resiko tinggi DM karena jumlah reseptor insulin menurun pada obesitas mengakibatkan intoleransi glukosa dan hiperglikemia ( Price dan Wilson, 1995 ).
Perubahan karena usia lanjut berhubungan dengan resistensi insulin dapat mendukung terjadinya DM karena toleransi glukosa secara berangsur – angsur akan menurun bersamaan dengan berjalannya usia seseorang mengakibatkan kadar glukosa darah yang lebih tinggi dan lebih lamanya keadaan hiperglikemi pada usia lanjut. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya pelepasan insulin dari sel – sel beta, lambatnya pelepasan insulin dan penurunan sensitifitas perifer terhadap insulin ( Long, 1996 ).
C. KLASIFIKASI
Klasifikasi yang ditentukan oleh National Diabetes Data Group of The National Institutes of Health, sebagai berikut :
1. Diabetes Melitus tipe I atau IDDM ( Insulin Dependent Diabetes Melitus ) atau tipe juvenil
Yaitu ditandai dengan kerusakan insulin dan ketergantungan pada terapi insulin untuk mempertahankan hidup. Diabetes melitus tipe I juga disebut juvenile onset, karena kebanyakan terjadi sebelum umur 20 tahun. Pada tipe ini terjadi destruksi sel beta pankreas dan menjurus ke defisiensi insulin absolut. Mereka cenderung mengalami komplikasi metabolik akut berupa ketosis dan ketoasidosis.
2. Diabetes Melitus tipe II atau NIDDM ( Non Insulin Dependent Diabetes melitus)
Dikenal dengan maturity concept, dimana tidak terjadi defisiensi insulin secara absolut melainkan relatif oleh karena gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. Terjadi pada semua umur, lebih sering pada usia dewasa dan ada kecenderungan familiar.
NIDDM dapat berhubungan dengan tingginya kadar insulin yang beredar dalam darah namun tetap memiliki reseptor insulin dan fungsi post reseptor yang tidak efektif.
3. Gestational Diabetes
Disebut juga DMG atau diabetes melitus gestational. Yaitu intoleransi glukosa yang timbul selama kehamilan, dimana meningkatnya hormon – hormon pertumbuhan dan meningkatkan suplai asam amino dan glukosa pada janin yang mengurangi keefektifitasan insulin.
4. Intoleransi glukosa
Berhubungan dengan keadaan atau sindroma tertentu., yaitu hiperglikemi yang terjadi karena penyakit lain. Penyakit pankreas, obat – obatan, dan bahan kimia. Kelainan reseptor insulin dan sindrome genetik tertentu. Umumnya obat – obatan yang mencetuskan terjadinya hiperglikemia antara lain : diuretik furosemid ( lasik ), dan thiazide, glukotikoid, epinefrin, dilantin, dan asam nikotinat ( Long, 1996 ).
D. ETIOLOGI
Etiologi pada DM telah dijabarkan oleh para ahli. , yaitu berkaitan dengan fungsi organ dan berbagai faktor resiko yang mendahului.
Mansjoer ( 1996 : 588 ) menyatakan bahwa Insulin Dependent Diabetes Melitus ( IDDM ), atau DM yang tergantung pada insulin ( tipe I ) disebabkan oleh destruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoimmune. Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Melitus ( NIDDM ) atau tipe II disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidakl mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya ( terjadi defisiensi relatif insulin).
Faktor yang meningkatkan resiko terjadinya DM, diantaranya :
a. Faktor genetik ( herediter )
Resiko terkena DM meningkat apabila ada anggota yang terkena atau menderita DM, yaitu kesesuaian pada kembar monozigote dan autosomonal dominan. Insulin Dependen Diabetes Melitus : <50 % dan Non Insulin Dependent Diabetes Melitus : 90 – 100% ( Long, 1996 ).
b. Faktor ras dan etnik tertentu
NIDDM biasanya dialami oleh non kulit putih, pada masyarakat Amerika angka kejadian NIDDM adalah 1:3, sedangkan pada populasi umum adalah 1:200 ( Long, 1996 )
c. Faktor autoimmune
Sel – sel beta pankreas dihancurkan oleh proses autoimmune.
d. Proses radang atau infeksi
Pada kasus pankreatitis akan terjadi hambatan sekresi insulin
e. Faktor obesitas
Jumlah reseptor insulin menurun pada orang yang kegemukan ( Long, 1996 ).
f. Pada keadaan tertentu
Misalnya pada wanita dalam masa kehamilan atau karena efek dari obat – obatan tertentu ( Long, 1996 ).
E. PATHOFISIOLOGI
Insulin dan glukagon diproduksi dalam pankreas, yang merupakan kelenjar eksokrin dan endokrin yang lebih dari sejuta kumpulan pulau – pulau sel terletak menyebar dalam organ ini. Terdapat 3 jenis sel – sel endokrin, yaitu sel alpha yang memproduksi glukagon ; sel beta, yang mensekresi insulin ; sel delta yang mensekresi gastrin dan somatostatin pankreas.
Mekanisme kerja insulin adalah hipoglikemik dan anabolitik. Dalam keadaan normal jika terdapat insulin, asupan glukosa yang melebihi kebutuhan kalori akan disimpan sebagai glikogen dalam sel – sel hati dan otot yang disebut proses glikogenesis. Proses ini mencegah terjadinya hiperglikemi. Jika terjadi kekurangan insulin maka menyebabkan perubahan metabolisme yang menyebabkan hiperglikemi, antara lain :
a. Transpor gula yang melewati membran sel berkurang.
b. Glukogenesis berkurang,dan tetap terdapat kelebihan glukosa dalam darah.
c. Glikogenesis meningkat sehingga cadangan glikogen berkurang dan glukosa hati akan dicurahkan secara terus menerus.
d. Glukoneogenesis meningkat sehingga glukosa dalam darah meningkat dari hasil pemecahan asam amino dan lemak.
Ketosis menyebabkan asidosis dan terjadi koma. Hiperglikemia meningkatkan osmolaritas darah. Jika konsentrasi glukosa dalam darah meningkat dan melebihi ambang ginjal, maka pada penyaringan di glomerulus dan reabsorpsi glukosa pada tubulus pun berkurang sehingga terjadi glukosuria. Karena glukosa dalam larutan, maka pengeluaran urine pun banyak sebanding dengan pengeluaran glukosa. Hal ini dinamakan poliuri. Banyak garam mineral tubuh pun ikut keluar bersama urine sehingga menyebabkan kekurangan kadar garam dan terjadi penarikan cairan dari intraseluler dan ektraseluler dan merangsang rasa haus berkepanjangan ( polidipsi ), starvasi seluler dan kehilangan kalori akan merangsang rasa lapar yang berkepanjangan ( polifagi ).
F. MANIFESTASI KLINIK
1. Gejala klasik pada DM adalah :
a. Poliuri ( banyak buang air kecil ), frekuensi buang air kecil meningkat termasuk pada malam hari.
b. Polidipsi ( banyak minum ), rasa haus meningkat.
c. Polifagi ( banyak makan ), rasa lapar meningkat.
2. Gejala lain yang dirasakan penderita
a. Kelemahan atau rasa lemah sepanjang hari.
b. Keletihan.
c. Penglihatan atau pandangan kabur.
d. Pada keadaan ketoasidosis akan menyebabkan mual, muntah dan penurunan kesadaran.
3. Tanda yang bisa diamati pada penderita DM adalah :
a. Kehilangan berat badan.
b. Luka, goresan lama sembuh.
c. Kaki kesemutan, mati rasa.
d. Infeksi kulit.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Mansjoer ( 1999 ) mengatakan bahwa pemeriksaan penunjang sangat penting dilakukan pada penderita DM untuk menegakkan diagnosa. Kelompok resiko DM, yaitu kelompok usia dewasa tua ( lebih dari 40 tahun ), obesitas, tekanan darah tinggi, riwayat keluarga DM, riwayat kehamilan dengan bayi lebih dari 4000 gram, riwayat DM selama kehamilan, dan dislipidemia .
Pemeriksaan dilakukan dengan pemeriksaan gula darah sewaktu kemudian dapat diikuti dengan Test Toleransi Glukosa Oral ( TTGO ). Untuk kelompok resiko yang haisl pemeriksaanya negatif, perlu pemeriksaan ulangan setiap tahunnya.
Pada pasien dengan DM di pemeriksaan laboratoriumnya akan didapatkan hasil gula darah puasa > 140 mg/dl pada dua kali pemeriksaan. Dan pada pemeriksaan gula darah post prandial > 200 mg/dl
H. KOMPLIKASI
Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronik. ( Carpenito, 2001 )
1. Komplikasi Akut, ada 3 komplikasi akut pada diabetes mellitus yang penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka pendek, ketiga komplikasi tersebut adalah ( Smeltzer, 2002 : 1258 )
1) Diabetik Ketoasedosis ( DKA )
Ketoasedosis diabatik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalananpenyakit diabetes mellitus. Diabetik ketoasedosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata ( Smeltzer, 2002 : 1258 )
2) Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHHN)
Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran. Salah satu perbedaan utama KHHN dengan DKA adalah tidak terdapatnya ketosis dan asidosis pada KHHN (Smetzer, 2002 : 1262)
3) Hypoglikemia
Hypoglikemia ( Kadar gula darah yang abnormal yang rendah) terjadi aklau kadar glukoda dalam darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian preparat insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit (Smeltzer, 2002 : 1256)
2. Komplikasi kronik Diabetes Melitus pada adsarnya terjadi pada semua pembuluh darah diseluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik). Angiopati Diabetik dibagi menjadi 2 yaitu : (Long 1996) :
1) Mikrovaskuler
a. Penyakit Ginjal
Salah satu akibat utama dari perubahan – perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. Bila kadar glukosa darah meningkat, maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang menyebabkan kebocoran protein darah dalam urin (Smeltzer, 2002 : 1272)
b. Penyakit Mata (Katarak)
Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan. Keluhan penglihan kabur tidak selalui disebabkan retinopati (Sjaifoellah, 1996 : 588). Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjanganyang menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa (Long, 1996 : !6)
c. Neuropati
Diabetes dapat mempengaruhi saraf - saraf perifer, sistem saraf otonom, Medsulla spinalis, atau sistem saraf pusat. Akumulasi sorbital dan perubahan – perubahan metabolik lain dalam sintesa atau funsi myelin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf ( Long, 1996 : 17)
2) Makrovaskuler
a. Penyakit Jantung Koroner
Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh tubuh sehingga tekanan darah akan naik atau hipertensi. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis), dengan resiko penderita penyakit jantung koroner atau stroke
b. Pembuluh darah kaki
Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf – saraf sensorik, keadaan ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang menyebabkan gangren. Infeksi dimulai dari celah – celah kulit yang mengalami hipertropi, pada sel –sel kuku yang tertanam pada bagian kaki, bagia kulit kaki yang menebal, dan kalus, demikian juga pada daerah – daerah yang tekena trauma (Long, 1996 : 17)
c. Pembuluh darah otak
Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai darah keotak menurun (Long, 1996 : 17)
I. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan secara medis
a. Obat Hipoglikemik oral
1) Golongan Sulfonilurea / sulfonyl ureas
Obat ini paling banyak digunakan dan dapat dikombinasikan denagn obat golongan lain, yaitu biguanid, inhibitor alfa glukosidase atau insulin. Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan produksi insulin oleh sel- sel beta pankreas, karena itu menjadi pilihan utama para penderita DM tipe II dengan berat badan yang berlebihan.
Obat – obat yang beredar dari kelompok ini adalah ;
• Glibenklamida ( 5mg/tablet ).
• Glibenklamida micronized ( 5 mg/tablet ).
• Glikasida ( 80 mg/tablet ).
• Glikuidon ( 30 mg/tablet ).
2) Golongan Biguanid / Metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi glukosa hati, memperbaiki ambilan glukosa dari jaringan ( glukosa perifer ). Dianjurkan sebagai obat tunggal pada pasien dengan kelebihan berat badan.
3) Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase
Mempunyai efek utama menghambat penyerapan gula di saluran pencernaan, sehingga dapat menurunkan kadar gula sesudah makan. Bermanfaat untuk pasien dengan kadar gula puasa yang masih normal.
b. Insulin
1) Indikasi insulin
Pada DM tipe I yang tergantung pada insulin biasanya digunakan Human Monocommponent Insulin ( 40 UI dan 100 UI/ml injeksi ), yang beredar adalah Actrapid.
Injeksi insulin juga diberikan kepada penderita DM tipe II yang kehilangan berat badan secara drastis. Yang tidak berhasil dengan penggunaan obat – obatan anti DM dengan dosis maksimal, atau mengalami kontraindikasi dengan obat – obatan tersebut, bila mengalami ketoasidosis, hiperosmolar, dana sidosis laktat, stress berat karena infeksi sistemik, pasien operasi berat, wanita hamil dengan gejala DM gestasional yang tidak dapat dikontrol dengan pengendalian diet.
2) Jenis Insulin
• Insulin kerja cepat
Jenis – jenisnya adalah regular insulin, cristalin zink, dan semilente.
• Insulin kerja sedang
Jenis – jenisnya adalah NPH ( Netral Protamine Hagerdon )
• Insulin kerja lambat
Jenis – jenisnya adalah PZI ( Protamine Zinc Insulin )
2. Penatalaksanaan secara keperawatan
a. Diet
Salah satu pilar utama pengelolaan DM adalah perencanaan makan. Walaupun telah mendapat tentang penyuluhan perencanaan makanan, lebih dari 50 % pasien tidak melaksanakannya.
Penderita DM sebaiknya mempertahankan menu diet seimbang, dengan komposisi idealnya sekitar 68 % karbohidrat, 20 % lemak dan 12 % protein. Karena itu diet yang tepat untuk mengendalikan dan mencegah agar berat badan tidak menjadi berlebihan dengan cara :
• Kurangi kalori.
• Kurangi lemak.
• Konsumsi karbohidrat komplek.
• Hindari makanan yang manis.
• Perbanyak konsumsi serat.
b. Olahraga
Olahraga selain dapat mengontrol kadar gula darah karena membuat insulin bekerja lebih efektif. Olahraga juga membantu menurunkan berat badan, memperkuat jantung, dan mengurangi stress. Bagi pasien DM melakukan olahraga dengan teratur akan lebih baik, tetapi jangan melakukan olahraga yang berat – berat.
J. Diit Pada Diabetes Melitus
Pemberian diit pada DM dengan memperhatikan prinsip 3 J yaitu:
1. Jenis bahan Makanan
2. Jadual makanan
3. Jumlah makanan
Diit pada Dm adalah:
Tinggi karbohidrat, tinggi serat, rendah lemak, rendah protein
Tujuan Pemberian Diit pada DM:
2. Mempertahankan kadar gula agar normal
3. Mempertahankan BB yang seimbang
4. Mencegah Komplikasi akut dan kronik
Makanan yang harus dihindari
1. Gula
2. Susu
3. Madu
Makanan yang mengandung karbohidrat yang boleh dimakan
1. Nasi
2. Kentang
3. Roti
4. Singkong
Bahan makanan yang mengandung protein hewani yang boleh dimakan, seperti:
1. Ikan segar
2. Ayam
3. Telur Ayam
4. Udang
Bahan makanan yang mengandung protein nabati yang boleh dimakan, seperti:
1. Tahu
2. Tempe
3. Kacang tanah
4. Kacang hijau
5. Kacang merah
Sayuran yang bebas dimakan
8. Kangkung
9. Tomat
10. Terong
11. Ketimun
12. Kol
13. Sawi
14. Gambas
Sayuran yang boleh dimakan tapi dibatasi:
6. Buncis
7. Daun singkong
8. Kacang panjang
9. Kembang Kol
10. Bayam
Buah yang bebas dimakan tanpa dibatasi
1. Jambu air
2. Jambu biji
3. Pepaya
Buah yang boleh dimakan tapi dibatasi
1. Pisang, kecuali pisang ambon dan pisang hijau
2. Jeruk
3. Mangga
4. Nanas
Buah yang tidak boleh dimakan, seperti;
1. Nangka
2. Durian
3. Sawo
4. Leercy
5. Apel merah
Kebutuhan Kalori
Data = 152cm BB total = 152 – 100
= 52 Kg ( a )
BB aktual = 47 Kg Kurus
Jenis Kelamin = Wanita
Kalori Basal = Laki laki = 30 Kal/Kg, Wanita 25 Kal/Kg ( c)
= 52 x 25
= 1300 (c)
Aktifitas = Sedang
Umur =70 tahun
Perhitungan Kalori
Kalori Basal = a x b = 52 x 25 = 1300 kalori (c)
Koreksi
Umur 40 tahun - 5 % x c = -5/100 x 1300 = - 65 kalori
Aktifitas sedang + 30 % x c = + 30/100 x 1300 = 390 kalori
Kurus + 20 % x c = +20/100 x 1300 = 260 kalori +
Total kebutuhan 1.885kalori
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth. 1996. Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC. Jakarta.
Prince A Sylvia. 1995. patofisiologi. Clinical Concept. Alih bahasa : Peter Anugrah EGC. Jakarta.
Sjaifoellah, N. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Smeltzer, S. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Long, B.C. 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Alih Bahasa, Yayasan Ikatan Alumni pendidikan Keperawatan Padjadjaran. Bandung: YPKAI
SATUAN ACARA PENGAJARAN
Mata Ajar : Keperawatan Komunitas
Pokok Bahasan : Endokrin
Sub Pokok Bahasan : Diabetes Mellitus
Hari/Tanggal :
Waktu :
Penyuluh :
Tempat :
1. Tujuan Pengajaran
a)Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan tindakan keperawatan/pendidikan kesehatan maka keluarga Klien mampu merawat anggota keluarga yang sakit Diabetes Melitus (DM) pada klien untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut
b)Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan tindakan keperawatan / pendidikan kesehatan selama 1 x 45 menit keluarga klien mampu:
1.Mengerti pengertian DM
2.Mengetahui penyebab DM
3.Mengetahui tanda dan gejala DM
4.Mengetahui tentang penatalaksanaan pada pasien Diabetes Melitus (DM)
2.Sasaran
Sasaran ditujukan pada keluarga klien dengan keluarga yang menderita Diabetes Mellitus
3.Metode
- Ceramah
- Diskusi/ tanya jawab
4. Media
o Lembar balik
o Leaflet
5. susunan Acara
Post-interaksi ☺ Mengucapkan salam
☺ Penyampaian tujuan pertemuan sesuai kontrak waktu
☺ Menjelaskan tentang pengertian Diabetes Melitus
☺ Menjelaskan tentang penyebab DM
☺ Menyebutkan tanda dan gejala Diabetes Melitus
☺ Menjelaskan tentang penatalaksanan perawatan pasien DM (diit)
☺ Memberikan pertanyaan pada keluarga
☺ Menyimpulkan hasil penyuluhan
☺ Menutup pertemuan dan mengucapkan salam 5 menit
30 menit
10 menit Menjawab salam
Menyetujui penyuluhan dan mendengarkan
Mendengarkan
Mendengarkan
Mendengarkan
Mendengarkan
Menjawab pertanyaan
Memberi tanggapan
Menjawab salam
7. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
Semua peserta penyuluhan hadir dalam acara penyuluhan
2. Evaluasi Proses
b) Peserta bersedia dirumah sesuai dengan kontrak waktu yang ditentukan
c) Peserta antusias untuk bertanya tentang hal-hal yang tidak siketahuinya
d) Peserta menjawab semua pertanyaan yang telah diberikan
3. Mahasiswa
e) Dapat memfasilitasi jalannya penyuluhan
f) Dapat menjalankan perananya sesuai dengan tugas
4. Evaluasi Hasil
g) Kegiatan penyuluhan berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
h) Adanya kesepakatan antara keluarga dengan perawat dalam melaksanakan implementasi keperawatan selanjutnya.
8. Daftar Pertanyaan
1. Sebutkan pengertian Diabetes Melitus
2. Sebutkan penyebab DM
3. Sebutkan tanda dan gejala DM
4. Sebutkan cara perawatan DM (prinsip)
5. Sebutkan diit pada DM
6. Sebutkan makanan yang harus dihindari
7. Buah yang harus dihindari
8. Sebutkan sayuran yang bebas dimakan
9. Sebutkan sayuran yang bebas dimakan tapi dibatasi dan tidak boleh dimakan
10. Sebutkan buah yang bebas dimakan
9. Stardar Jawaban
1. Diabetes Melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
2. Penyebab DM :
Faktor keturunan
Gaya hidup
Obesitas/ kegemukan
Penuan
3. Tanda dan gejala DM:
polidipsi (banyak minum)
poliuri (banyak kencing)
polipagi (banyak makan)
Kelemahan tubuh
Kesemutan/ rasa gatal
Gatal-gatal pada kulit
Luka yang tidak sembuh-sembuh
4. Cara perawatan DM (prinsip)
a. Kontrol kadar gula darah yang teratur
b. Olah raga yang teratur/ latihan gerak
c. Minum obat secara teratur
d. Makanan sesuai diit
6. Diit pada DM :
Tinggi karbohidrat, tinggi serat, rendah lemak, rendah protein
7. Makanan yang harus dihindari
a. Gula
b. Susu
c. Madu
8. Buah yang harus dihindari
Nangka
Durian
Sawo
Leercy
Apel merah
9. Sayuran yang bebas dimakan
a. Kangkung
b. Tomat
c. Terong
d. Ketimun
e. Kol
f. Sawi
g. Gambas
10. Sayuran yang bebas dimakan tapi dibatasi dan tidak boleh dimakan
Sayuran yang bebas dimakan
1. Kangkung
2. Tomat
3. Terong
4. Ketimun
5. Kol
6. Sawi
7. Gambas
Sayuran yang boleh dimakan tapi dibatasi:
1. Buncis
2. Daun singkong
3. Kacang panjang
4. Kembang Kol
5. Bayam
11. Buah yang bebas dimakan
♥ Jambu air
♥ Jambu biji
♥ Pepaya